Adakah Yang Mendoakan Kita

July 19th, 2006 by glory-limbong

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi
dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat
orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang
Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50
orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika
dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau
akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23.00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan
antusiasnya si pengusaha bertanya, "apakah besok pagi aku sudah pulih?
pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya
lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa
pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "anakku, aku sudah berkeliling
mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang
yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya
mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat
kesembuhanmu".

Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan
layar besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di
layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2
orang

anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu
memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak
putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2.00 subuh, "
Tuhan, aku tau kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah
yang baik!

Aku tau dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tau dia tidak
jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya
untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar
dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau
titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba
tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya
berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di
pipinya yang kelihatan

tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi
pengusaha ini . . . timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah
suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan
malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak
padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi,
melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,
penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak
mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa
buatku?"

Jawab si Malaikat, " ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka
tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat
ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan
yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah
malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat
anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung
tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga
tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat
berkata, "anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! kau
tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam
24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya,si pengusaha bertanya
siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan
suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan.

Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan
yang lalu, walau aku tau tujuanmu saat itu hanya untuk mencari
popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor
luar negeri.

Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di
koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU,
setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma
adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak
panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.

Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir
itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia,
mungkin saja

pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan
baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Tuhan memberkati

Sumber: Renungan di http://www.terangdunia.com

Mother Teresa

July 17th, 2006 by glory-limbong

Mother Teresa,
Aku salut banget ma beliau. Beliau ini salah satu tokoh agama yang paling aku salutin. Itu makanya waktu aku baca profilnya di http://www.terangdunia.com, aku terinspirasi untuk ngopi-nya ke blog aku..

Mother Theresa lahir pada tanggal 27 Agustus 1910 di kota Skopje (Yugoslavia) dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu. Orang tuanya berasal dari Albania.
Pada usia 18 tahun gadis Agnes masuk orde Zuster van Loreta di kota Dublin, Irlandia, yang aktif dengan pengiriman misi ke India. Setahun kemudian Agnes dikirim oleh ordonya ke Cacutta di India dan sejak itu memakai nama zuster Theresa.

Sejak tahun 1946 pada usia ke-36, zuster Theresa menjadi guru di Sekolah Menengah St. Mary’s di Calcutta. Zuster Theresa juga banyak menolong orang sakit, terutama anak-anak. Karenanya anak-anak di Calcutta sangat menyayangi zuster Theresa dan memanggil beliau dengan sebutan akrab, Mother Theresa. Syukur alhamdulilah, masyarakat Hindu India tidak kerdil jiwanya, sehingga Mother Theresa tidak dituduh hendak "mengkristenkan" India. Orang Hindu India lebih menghargai karya kemanusiaan Mother Theresa ketimbang meributkan perbedaan agama.

Tahun 1948 pada usianya yang ke-38, Mother Theresa bernaturalisasi menjadi WN India. Di tahun itu juga Mother Theresa meninggalkan ordonya untuk hidup di tengah-tengah orang miskin dan memilih memakai pakaian khas India, gaun sari putih sederhana dengan kerudung kepala bergaris biru di sekitar kepalanya. Beliau sudah menguasai bahasa Bengal secara fasih. Gadis-gadis Calcutta muda usia yang terkesan ke pada karya sosial Mother Theresa menawarkan tenaganya secara spontan untuk membantu. Grup sukarelawati India itu berkembang pesat, sehingga pada tahun 1950 sebuah ordo baru pun lahir dengan nama "Missionarissen van Naastenliefde" (Misionaris Kasih Sayang Sesama). "Kasih sayang terhadap sesama" memang adalah inti dari ajaran agama Katolik.

Ordo baru "Misionaris Kasih Sayang Sesama" di India itu telah diakui resmi oleh Vatican, karenanya kini berada dalam struktur organisasi Gereja Katolik Roma.

Mother Theresa, 1910 - 1997.
Ordo baru asuhan Mother Theresa itu hanya mempunyai satu misi, yaitu menolong kaum miskin yang paling miskin di Calcutta/India. Kemudian misinya berkembang sampai ke luar India, di beberapa negara didirikan klinik, barak penampungan orang miskin, dapur umum, panti asuhan dll. Di tahun 1979 Mother Theresa menerima Nobel Perdamaian. Almarhum Sri Paus Johannes Paulus II yang sangat terkesan dengan karya Mother Theresa, telah menyediakan waktunya beberapa kali untuk menerima audiensi Mother Theresa di Vatican.

Tahun 1997 Mother Theresa wafat dalam usia 87 tahun di Calcutta, kota di mana beliau menghabiskan sebagian besar dari hidupnya untuk berkarya, menjalankan kasih sayang Tuhan. Karya Mother Theresa kini dilanjutkan oleh zuster Nirmala, orang asli India.

Pemerintah Albania telah menambah satu hari libur nasional ekstra, yaitu tanggal 19 Oktober, hari ditentukannya Mother Theresa sebagai "orang suci" oleh almarhum Sri Paus Johannes Paulus II, enam tahun setelah wafatnya Mother Theresa. Buat Albania, tanggal 19 Oktober 2003 adalah juga permulaan dari pesta nasional setahun penuh yang dinamakan The Year of Mother Theresa. Karena belakangan kota Skopje di Albania menjadi ibukota negara Macedonia, maka sempat terjadi ketegangan antara Albania dan Macedonia, masing-masing meng-claim Mother Theresa sebagai berasal dari negaranya. Beruntung keributan itu tidak berlanjut. Albania menyebut Mother Theresa sebagai "tokoh rakyat Albania", sedangkan Macedonia mengelu-elukan beliau sebagai "putri dari Macedonia".

Apa pun yang terjadi, Mother Theresa telah berbuat banyak buat sesama manusia, karya seni ciptaan Allah yang paling sempurna ini. KASIHILAH SESAMAMU, MAKA KAU TELAH MENGASIHI TUHAN ALLAH-MU.

Sumber : http://lilin-hidup.blogspot.com

Ceroboh banget sih akuuuuuuu…………

July 12th, 2006 by glory-limbong

Anak jaringan macam mana pula’ aku ini.

Bisa2nya aku nge-delete all partition.. =)
Maluuuuuuuu…

Ceritanya gini..
Sebelum berangkat KP, Linuxku itu Grub (tau grub khan??).

Penyebabnya, waktu nge-burn, aku maksa banget ngejalanin berbagai macam program (Aku dah lupa program2 apa aja yang aku jalanin waktu itu. Yang pasti salah satunya WMP :D)

Akhirnya, karna aku gak sabaran klik sana dan klik sini, PC-ku hang.
Waktu aku reboot, Linuxnya dah grub.. :(
Untung waktu itu dah mo KP, jadi aku gag terlalu pusing lagi mikirin itu.

Nah, pulang dari KP, ternyata PC-ku gag ada yang make (Sapa pula’ yang mau make PC yang grub gitu :D).
Tapi karna malasnya aku, tetep aja linuxnya gag kuinstal ulang. Toh dengan perintah2 ini bisa masuk ke-XP kok.

grub>rootnoverify (hd0,0)
grub>makeactive

grub>chainloader +1
grub>boot

Nah, kemaren waktu mo implementasi IPv6 (topik TA-ku), baru deh aku kelabakan mo nginstal Linux + Windows 2003 lagi (ternyata windows 2003 juga rusak.. hehe, lengkap sudah penderitaanku).

Dimana letak kecerobohanku???

Nah ini dia nih yang malu2in, waktu nginstal FC5, dengan santainya aku me-next-kan aja waktu ada pilihan delete all partition.
Yang artinya semua partisi yang ada di HD-ku (C, D, E) di format ulang..

Gila nda aku????? (Hilanglah sudah semua data2-ku yang kira2 udah 10 GB.. Untung aja yang penting2 dah ku-backup waktu mo berangkat KP)

Mungkin kalo aku admin di suatu perusahaan yang PC-nya berisi data penting kayak gitu, trus nasibnya aku buat kayak PC-ku itu, pasti aku di pecat saat itu juga.. hehehe…

Tapi nda papalah..
Pengalaman itu khan guru yang paling baik. So, lain waktu gak gitu lagi deh… Ampuuuuunnnnnnnnnnnnn… :D

Sudahlah, yang penting sekarang PC-ku jadi cepat… hehehehehe.. Gag lambat lagi. Programnya udah sedikit + HD-nya kosong + Linux-nya pake FC5 (Bener2 gag tau malu ni anak… :p)

OK deh..
Aku gi pengen curhat ttg kecerobohanku aja. Biar yang  lain gag ngulangin kesalahan yang sama :D

Bye…

Mahalnya Sebuah Karir Untuk Wanita

July 10th, 2006 by glory-limbong

Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah
Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang
menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya
saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti
sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang
berusia 19 tahun baru saja meninggal karena overdosis narkotika.

Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya
saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami
kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.

Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi
berat dan

Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik
kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa
lagi yang bisa saya harapkan.

Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan
kepergian Bik Inah pembantu kami.

Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.

Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa
membawa dampak begitu hebat pada putri kami.

Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi
kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni
berumur 2 tahun.

Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu
kandungnya sendiri.

Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya
baca setelah ia meninggal.

Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah,
berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini.

Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan
dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu)

Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku
hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.

Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.

Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami
saya.

Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak
berpikir tentang

keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian,
bahkan mungkin lebih.

Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk
memikirkan urusan mereka.

Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara
keluarga, namun

sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika
hari Senin

tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang
terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya
untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya
anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya.

Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih
membesarkan kami 6 orang anaknya.

Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu
itu katanya

sangat baik.
Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi
karir dan

penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti
bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana
kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya
saya sekolah tinggi-tinggi?.

Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan
dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih
perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali
seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya.

Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu
untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan
"kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu
menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan
berjalan

begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah
dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.

Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes
Maya saat ini selalu terngiang di telinga.

Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja
dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya,
setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan
maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.

Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan
Maya.

Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya
semua

terjadi, setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua
minggu, bik Inah

meninggal dunia di Rumah Sakit.

Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni
malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.

Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah
dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik
Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.

Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada
kami. Dari sini

saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka,
sudah seperti ibu kandungnya menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas
melahirkan mereka saja ke dunia.

Tragis !

Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya
sering saya amati

Kalau lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami
sekeluarga ke desa bik Inah.

Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara
pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah
dan belajar di pesantren.

Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu
padahal dia

paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya
atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah,
Bagas, Doni dan Maya

tersenyum bersama.

Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu
dan seingat

saya itulah foto terakhirnya.

Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan
shock, kami

sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di
Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya
kembali berkutat dengan urusan kantor.

Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata
tercurah.

Maya menulis :
"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus
siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut
Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang
Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak
bisa tidur……….Ya Tuhan , Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah
itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah ?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya
sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang
saya rela berkorban apa saja untuk itu.

Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron
di TV dan

saya pemeran utamanya.
Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.

Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui
siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil
pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh
tiada terbayang beratnya.

Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan
"prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya
seorang yang mengalaminya.

Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy
untuk

menentramkan hati saya.

Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini
semua.

Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus
kesalahan saya,

karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa
anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.

Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.

Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk
suami dan

Doni.

Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan
amanahNya pada saya.

Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan
seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh
tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan
buah hatiku tentram di sisiMu".

Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.

Sumber: http://www.terangdunia.com/viewer_materi.php?id=1585

Seminar hari ini…

July 10th, 2006 by glory-limbong

Auch ah… tadi aku rada2 grogian waktu presentasi.. :(
Sebelllllllllllllllll.. padahal tadi waktu latihan, ngomongnya dah lancar dan bahasa inggrisnya juga gak terlalu belepotan.
Tapi tadi.. Hiks.. kok bisa grogi sih ly…..
Mana tadi tiba2 ada pergantian penguji lagi..

But, puji Tuhan seminar hari ini dah lewat. Walopun hasilnya gag terlalu memuaskan.
Yang paling penting itu, kami jadi tau apa2 aja yang perlu kami perbaikin.

Ternyata masih banyak hal yang belum kami ketahui..
Semangat Glory…
n’ Keep praying

Jesus Bless U

Seminar Tugas Akhir..

July 9th, 2006 by glory-limbong

Wuah…. Gag nyangka kalo besok aku udah harus seminar tugas akhir, tahap awal sebelum Sidang Tugas Akhir.
Kalo kata tim JTFP (Job Training Final Project-red) komposisi penilaian seminar besok 30% dari seluruh nilai Tugas Akhir kami.
Tapi aneh banget aku ini, persiapanku untuk presentasi besok gag terlalu mateng.
Nda’ tau napa aku kayak kurang semangat gitu.. mana bahasa inggrisku juga agak2 belepotan lagi :(

Mudah2an aja waktu yang tinggal sedikit untuk mempersiapkan seminar ini bisa aku gunain sebaik mungkin..

Jesus I need YOU to support me..

I know that YOU will be there for me.

Sedih dan senangnya jadi anak Pendeta

June 28th, 2006 by glory-limbong

Ntah kenapa tiba2
aku pengen aja curhat tentang senang n’ sedihnya jadi anak Pendeta.

Bagusan
senang-nya dulu ato sedinya dulu yah??

Sedihnya dulu deh…

Sedihnya jadi
seorang anak Pendeta:

· Pindah2
tempat

Nah ini nih yang paling sering aku alami (Biasanya satu kali dalam 3
tahun).

Kenapa sedih?? Bagaimana nggak, kami harus bolak-balik menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru. Belum lagi harus ninggalin temen2 yang udah terlanjur
deket dengan kita. Bahkan kadang harus ada anggota keluarga yang ditinggalin
karena sekolah yg nanggung.

Dulu aku pernah ditinggalin sendiri di padang. Aku ditinggalin karna waktu
itu aku dah kls 3 SLTP. Jadi gag mungkin lagi untuk pindah sekolah. Jadinya
sendirian deh ngarungin kejamnya ”dunia persilatan” ini :D


Daerah2 yang udah pernah aku jalanin:

  • Sipoholon (daerah tarutung), aku
         lahir disini. But pastinya aku gag tau dimana. Soalnya waktu umurku 3
         tahun kami pindah ke tarutung kota. 
  • Tarutung, Aku disini ampe umur 5 tahun.
  • Toba, Aku disini ampe kelas 3 SD.
  • Sipiongot

            Nah.. ini nih daerah penempatan bapak sebagai pendeta untuk yang pertama
kalinya. Asli             masih kampung2 banget. Bus n’ truk aja masih susah masuknya :D.
Mandinya di sungai                 atau sumur, pergi ke sawah, dll. Pokoknya asli kehidupan desa
terpencil deh..
J. Aku disini             ampe kelas 6 SD cawu 1. Aku
nikmatin bgt masa kecilku disini sbg anak kampung :D.

  • Padang

Ini dia kota pertama yang aku injak semenjak aku lahir ;). Disinilah aku
paling terkejut melihat dunia. Bagaimana ngga.
Tiba2 dimana2 ada mobil, ada gedung n’ ada sado
(dulu aku bilngnya kuda lumping
J).. Pokoknya terkejut batin lah…
:D. Aku disini ampe tamat SLTP.

  • Back to Tarutung

Ini kali kedua bapak di tempatkan disini. Tapi kalo tadinya dengan status guru
huria, kali keduanya dengan status Pendeta.
Aku disini ampe kuliah tingkat 1.
That’s why I love this town so
much.

  • Jakarta

Kalo ini sih masih sebentar. Baru
2 tahun. Tapi aku kesana baru 3
kali. Paling kalo libur2 panjang aja.

· Jadi
pusat perhatian

Ciee…. macam betul aja. Tapi
bener kok. Mau gag mau jemaat pasti memperhatikan anak Pendeta. Contohnya aja nih.. kalo tingkah kami agak2 aneh dikit
aja, pasti langsung dibilang gini ”Ih.. anak Pendeta kok gitu” ato ”Percuma
anak Pendeta”, dll :(
. Padahal anak Pendeta khan juga
manusia..:p.

Tapi, lama kelamaan aku jadi maklum juga. Mungkin emang seperti itulah
kebiasaan yang sudah ada.

· Bapak
sibuk

Kadang saking sibuknya bapak dalam pelayanan, jadi jarang banget makan
bareng, doa bareng n’ baca Alkitab bareng sama anak2nya. (Yah.. untung masih
ada mamaku yang bijaksana, pendamping setia yang bisa nutupin kesibukan bapak
dengan nyediain waktu yang sangat besar bagi keluarga).

· Gosip

Nah… ini nih yang paling sakit, kalo ada kesalahan Pendeta atau ortu,
langsung deh ada gosip yang membuat hati ini gag enak banget. Lebih baik deh
aku yang digosipin dari pada ortuku yang di gosipin (Pernah nih, aku ngamuk ama temen aku krn
masalah yang beginian.. :D). Yah, namanya juga manusia. Gag mungkin ada yang
sempurna. Gitu juga dengan Pendeta. So, STOP gosip deh… Gak bagus itu ;p.

Yah itulah
sedihnya, beban moril jadi seorang anak pendeta emang berat banget. But,
nikmati ajalah. Ada DIA (Yesus) kok yang pasti ngebantu kita untuk keluar dari
semua kesedihan dan rasa sakit itu..

 Kalo senangnya..

· Tau
tentang Tuhan sejak kecil

Yah.. ini nih intinya. Senangnya jadi seorang anak pendeta itu, dari kecil
udah dikenalin dengan FirTu. Emang waktu kecil cuek2 aja sih.. Bahkan kadang
sambil baca FirTu juga ngantuk2 ;). Tapi karna dari kecil udah tau, makin besar
makin ngerti n’ makin kenal deh ama Yesus n FirmanNYA. Thanx God for YOUR plan 2 me…

· Pindah2
tempat

Nah pindah2 tempat juga bisa jadi salah satu faktor kesenangannya. Why??
Karna kalo pindah2 tempat, makin banyak daerah dan bahasa yang diketahui. Kayak
aku nih.. Jadi ngerti bahasa Batak, bahasa batak angkola (Dah lupa juga sih..),
bahasa padang dan bhs Indonesia tentunya :D.

Selain itu juga sekolahnya juga jadi banyak.. hehehe.

· Dll.

 Sebenernya
senengnya banyak juga. But, segitu ajalah dulu..

Intinya aku
bahagia kok dilahirkan sebagai bagian dari keluarga pendeta.

Pernah ada orang
naya gini ke aku, aku lupa siapa. Pertanyaanya gini ”Kamu mau gak nikah sama
pendeta”. Yah jelaslah aku mau, asal dia pendeta yang bener2 pendeta (Maksudnya
tujuan utama dia yah emang untuk melayani Tuhan) :D..

Kayaknya segitu
dulu.

Dah kepanjangan sih…. ;p

God With Us…

Lulus2an

June 26th, 2006 by glory-limbong

Sore tadi waktu aku buka situs http://psb-smpdki.org/srcunas.asp, seneng rasanya ngelihat nama adekku terpampang dengan keterangan lulus dari SMPnya.

Wah gak nyangka adek bungsuku ini sekarang dah SMA.
Padahal kyknya baru kemarin aku lihat dia pake baju TK warna birunya ;p.

Hm.. cerita dikit ttg adekku yang satu ini.
Namanya Epifany Limbong.
Dia adekku satu2nya perempuan.
Gak heran, kalo dari kecil ampe SMU dia ini jadi temen berantemku.
Walopun ujung2nya aku juga yang harus ngalah (Maklumlah.. kakak-an. Jadi kalo kenapa2 pasti ortu marahnya ke yang kakak-an :(.. )

But, now. semenjak aku kuliah, kita dah jarang tuh bertengkar. Gak zamannya lagi bo!!
Kalo berantem2 kecil pastilah..
Apalagi kalo lagi ngadepin keras kepala-nya yang kadang muncul.

Tapi aku salut atas kedewasaan berpikirnya.
Dia bisa bersifat seperti orang yang paling dewasa kalo dah di depan "pasukannya" alias sepupu2ku yang umurnya masih beberapa bulan ampe 4 taon :D.
(Wuih.. kalo dia baca blog-ku ini, pasti dia dah terbang deh ke langit ke-7. Untung dia belum ngerti ber-internet ria.. hahaha..).

Yah itulah dia.
si kecil kami yang udah besar ;p

Surprise

June 25th, 2006 by glory-limbong

It surprised to know u..
To talk with u..
To share with u…
Not real, but I feel real..

thanx for everything..

Penutupan Kerja Praktek n’ Pembukaan TA

June 25th, 2006 by glory-limbong

Gak terasa n’ gak nyangka ternyata aku udah ngelewatin 2 bulan lebih masa KP (mulai dari pra KP 1 minggu, KP 7 minggu dan pasca KP 1 minggu).

Seru… Capek… Semua campur aduk.
Banyak pelajaran baru yang aku dapat selama KP. Pelajaran yang gag pernah aku dapetin di dunia perkuliahan.
=> Table manner yang baru aku tau waktu masa persiapan KP
=> Belajar untuk hidup mandiri dan beradaptasi dengan sumpeknya dan padatnya Kota Jakarta.
=> Belajar berhadapan dengan orang2 di perusahaan. Mulai dari PresDir, Direktur, Supervisor, asisten supervisor, karyawan n’ karyawatinya ampe Office boy-nya.
=> Belajar untuk bekerja di bawah tekanan n’ deadline2 report yang kadang bikin kepala bukan main pusingnya.
=>Belajar untuk bekerja dalam team.
=> Belajar untuk menghargai dan bersabar terhadap perlakuan orang lain yang kadang membuat emosi.
=> dll.
Banyak banget deh pokoknya.
Belum lagi pengalaman2 yang menegangkan seperti hampir kecopetan di bus, hampir jatuh dari bus ampe hampir ketinggalan pesawat.. :D
Kalo diinget2 seru-seru sedihlahhhh……

Belum lagi selama KP jerawat bejibun banyaknya, ampe2 ma2 stress ngelihatnya.. hahaha.. Padahal aku sih cuek aja.. =)

Bener2 gag nyangka akhirnya aku bisa ngelewatin itu semua.
Dulu aku gag pernah berani sendirian kalo kemana2 di Jakarta. Tapi ternyata bisa.
Aku yang biasanya nyebrang aja takut ;-), akhirnya bisa PP(Pulang Pergi) sendiri ke rumah (Jaksel-Jakut).
Ternyata gag sesulit yang kusangka!!
Hanya butuh keberanian n’ tentunya doa. (Doa itu yang terpenting. Karna kalo dipikir2, berbahaya banget kalo seorang cewek itu berjalan sendiri di tengah keramaian kota Jakarta. But, buktinya aku bisa ngelewatinnya. Pokoknya, Doa ngalahin semuanya dehhhhh…).

Wah…. sebenernya kalo mo diceritain satu persatu, gag bakan selesai deh satu malam ini ngetikin semuanya disini.. hehe

Nah, besok adalah hari penutupan masa KP n’ pembukaan TA.
Wah… kira2 apa lagi yah yang harus aku hadapin..
Kita tunggu aja.
Mudah2an masih ada waktu buat nge-blog :p

Ok d, segitu dulu…