Archive for August, 2006

True Story Of John Carmody - A Successful Executive

Friday, August 18th, 2006

Semuanya
itu disadari John pada saat dia termenung seorang diri,

menatap kosong keluar   jendela  rumahnya.
Dengan  susah  payah  ia  mencoba  untuk
memikirkan mengenai pekerjaannya yang menumpuk. Semuanya sia-sia
belaka.

Yang  ada  dalam  pikirannya 
hanyalah   perkataan  anaknya  Magy di
suatu sore sekitar  3  minggu  yang  lalu.
Malam  itu,  3  minggu  yang  lalu
John membawa
pekerjaannya  pulang. 

Ada

rapat umum yang sangat penting
besok pagi
dengan para
pemegang  saham.  Pada saat John memeriksa
pekerjaannya, Magy putrinya
yang baru berusia  2  tahun  dating  menghampiri,
sambil membawa buku ceritanya

yang masih baru.
Buku baru bersampul hijau dengan
gambar peri.

Dia  berkata  dengan  suara manjanya,
"Papa lihat !" John menengok
kearahnya dan
berkata, " Wah, buku baru ya ?" "Ya
Papa!" katanya berseri-seri,
"Bacain
dong !" "Wah,  Ayah  sedang  sibuk
sekali, jangan sekarang deh", kata John

dengan cepat sambil  mengalihkan  perhatiannya pada
tumpukan  kertas di depan

hidungnya. Magy hanya  berdiri terpaku disamping John sambil
memperhatikan. Lalu dengan
suaranya yang  lembut  dan  sedikit  dibuat-buat
mulai  merayu kembali: "Tapi

mama  bilang Papa akan membacakannya untuk Magy".

Dengan  perasaan  agak  kesal
John  menjawab:  "Magy dengar, Papa
sangat sibuk.
Minta  saja  Mama  untuk
membacakannya." " Tapi Mama lebih sibuk
daripada
Papa,"katanya  sendu. " Lihat Papa, gambarnya
bagus dan lucu." " Lain kali 
Magy, sana !  Papa  sedang  banyak
kerjaan."  John berusaha untuk tidak

memperhatikan Magy lagi.  Waktu  berlalu, Magy masih berdiri kaku
disebelah Ayahnya sambil
memegang erat bukunya.

Lama  sekali  John  mengacuhkan
anaknya. Tiba-tiba Magy mulai lagi:
"Tapi
Papa, gambarnya  bagus sekali dan ceritanya pasti bagus! Papa
pasti akan

suka." 

"Magy, sekali  lagi  Ayah bilang: Lain kali!"
dengan agak keras John membentak

anaknya. Hampir menangis Magy mulai menjauh, "Iya deh, lain
kali ya Papa, lain

kali."

Tapi  Magy kemudian mendekati Ayahnya sambil menyentuh
lembut
tangannya,
menaruh bukunya   dipangkuan  sang  Ayah sambil
berkata: " Kapan saja Papa ada

waktu ya, Papa  tidak  usah  baca  untuk Magy,
baca saja untuk Papa. Tapi kalau

Papa bisa, bacanya yang keras ya, supaya Magy juga  bias ikut
dengar." John hanya

diam.

Kejadian  3  minggu  yang lalu itulah
sekarang yang ada dalam pikiran
John. John
teringat   akan  Magy  yang
dengan  penuh  pengertian  mengalah. Magy
yang baru
berusia  2  tahun  meletakkan tangannya yang
mungil di atas tangannya
yang
kasar mengatakan:  "Tapi  kalau  bisa
bacanya yang keras ya Pa, supaya Magy

bisa ikut dengar."  Dan karena itulah John mulai membuka
buku cerita yang

diambilnya, dari tumpukan mainan Magy di pojok ruangan.

Bukunya   sudah  tidak terlalu baru,
sampulnya sudah mulai usang dan
koyak. John mulai  membuka  halaman  pertama
dan  dengan suara parau mulai
membacanya. John sudah  melupakan  pekerjaannya  yang dulunya
amat sangat penting. Ia
bahkan lupa akan  kemarahan  dan  kebenciannya
terhadap pemuda mabuk yang dengan

kencangnya menghantam  tubuh  putrinya  di  jalan
depan rumah. John  terus membaca 
halaman demi  halaman sekeras  mungkin, cukup keras bagi
Magy untuk dapat
mendengar dari tempat  peristirahatannya yang terakhir.
Mungkin…

* * * * *

"  Lakukan  sesuatu  untuk
seseorang yang anda kasihi sebelum
terlambat, karena
sesal  kemudian tidak akan ada gunanya lagi…. Lakukan
sesuatu yang
manis untuk orang-orang yang kamu kasihi dengan waktu  yang anda
punya……."

"Keep the spirit
together ’til the last moment"

The BlueJackets Society.

——–

Tetapi  yang  terutama:  kasihilah
sungguh-sungguh seorang akan yang
lain, sebab
kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8)

Religious Alphabet. Nice!!

Wednesday, August 16th, 2006

A - Although things are not perfect;
B - Because of trial or pain;
C - Continue in thanksgiving;
D - Do not begin to blame;
E - Even when times are hard;
F - Fierce winds are bound to blow;
G - God is forever able;
H - Hold on to what you know;
I - Imagine life without His love;
J - Joy would cease to be;
K - Keep thanking Him for all the things;
L - Love imparts to thee;
M - Move out of "Camp Complaining";
N - No weapon that is known;
O - On earth can yield the power;
P - Praise can do alone;
Q - Quit looking at the future;
R - Redeem the time at hand;
S - Start everyday with worship;
T - To "thank" is a command;
U - Until we see Him coming;
V - Victorious in the sky;
W - We’ll run the race with gratitude;
X - eXalting God most high;
Y - Yes, there will be good times and yes some will be bad,
but…
Z -

Zion

waits in glory…where
none are ever sad! Amen!!!

Praise God Oh my Soul

 

BAHASA IMAN

Monday, August 14th, 2006

BAHASA IMAN

"Si Bernard adalah anak sulung dari sebuah keluarga halak hita (Batak). Dia bekerja di sebuah perusahaan yang maju pesat, dan karirnya pun sangat baik. Setiap bulan dia selalu mengirimkan uang buat orangtuanya, dan ini dilakukan secara teratur dan rutin. Jumlahnya selalu disesuaikan dengan besarnya gaji yang diterima. Kalau dia mendapat insentif, bonus dsb,tokoh kita ini akan mengirimkan jumlah yang lebih besar. Dan setiap bulan dia selalu meminta agar orangtuanya berdoa untuk dia, agar dia selalu dalam pemeliharaan Tuhan.

Hingga pada saat Indonesia diterpa krisis ekonomi 5 tahun lalu, perusahaan tempatnya bekerja mulai kelimpungan dan akhirnya harus ditutup. Bernard harus pensiun dini/PHK. Sebagai kompensasi dia menerima uang pesangon cukup besar.  Dan pada kondisi begini pun dia tidak lupa mengirimkan sebagian kepada orangtuanya, dan jumlahnya jauh lebih besar dari yang dikirimkannya setiap bulan. Dan dia juga menitipkan pesan seperti ini : " Amang, inang!! Loas ma rohamuna manjalo kiriman on. Unang lupa hamu manangianghon ahu,ai nunga memble ahu nuaeng." (Ayah, Ibu, Semoga hati kalian rela menerima kiriman ini. Jangan lupa mendoakan aku, karena saya sekarang sudah MEMBLE) Orangtua si Bernard sangat senang mendapat kiriman yang sedemikian banyak. Dalam bayangan mereka, anaknya mendapat posisi yang lebih bagus dan gaji yang berlipat ganda.

Tuhan mendengarkan doa mereka. Ini harus disyukuri. Dan mereka pun mengundang para tetangga dan sisolhot (kerabat) dan mengadakan partangiangan (doa) ucapan syukur. Sintua (majelis) juga diundang. Dalam acara  partangiangan tersebut, ortu si Bernard mengungkapkan "tema besar" acara partangiangan tersebut. Temanya adalah "Mandok mauliate tu Tuhan-ta, ala naung memble do anakhon nami si Bernard. Jala asa tatangiangkon ibana, asa lam tu memble na tu joloan on". ("Mengucap syukur kepada Tuhan kita, karena anak kami si Bernard sudah memble. Doakanlah dia, agar semakin memble di masa yang akan datang") Dan demikanlah acara partangiangan tersebut berlangsung, mengikuti tema besar yang ditentukan tuan rumah. Mereka berdoa dengan khusuk,terlebih orangtuanya, mengucap syukur atas si Bernard yang sudah memble saat ini. Dan agar Tuhan memberi berkat yang berkelimpahan, dan karunia agar si Bernard semakin memble.

Demikian singkat cerita, si Bernard dapat penawaran bekerja pada posisi yang lebih baik di salah satu perusahaan besar asing yang tidak terkena dampak krisis. Dan dia dibayar jauh lebih besar dari yang diterimanya di perusahaan yang sebelumnya. Dia mengucap syukur dan berdoa sepenuh hati, atas berkat kasih Tuhan. Dan dengan hati berbunga-bunga dia pergi ke kantor pos, mengambil pos wesel dan menuliskan pesannya di sana : "Amang,inang!! Mauliate ma ditangiang muna. Mauliate di Tuhan-ta, ai dibege do tangiangta. Horas. Sian anakhon muna: Bernard". (Ayah, Ibu!! terima kasih atas doanya. Terima kasih kepada Tuhan karena sudah didengarNya doa kita. Salam. Dari anakmu: Bernard".)

Dan dia menuliskan angka setengah dari gajinya untuk dikirimkan. Wesel pos tiba di huta (kampung), di alamat orangtua Bernard. Orangtuanya sangat-sangat senang. Lebih  senang lagi, setelah membaca pesan si Bernard, dan angka kiriman di wesel. "Mauliate ma Tuhan, dibege Ho do tangiang nami. Dilehon Ho do pasu-pasu tu anak nami si Bernard. Nunga lam memble be ibana." (Terima kasih Tuhan, karena Engkau mendengar doa kami. Diberikan olehMu berkat kepada anak kami si Bernard. Sudah semakin memble dia.) Dan tiba pada akhir tahun, Bernard pulang kampung menemui orangtuanya.Setelah melepas rindu, bongkar-bongkar oleh-oleh untuk semua, ibunya bertanya. " Cerita ma jolo ho anaha, aha ma karejo dohot pangkatmu nuaeng amang, ai tung balga kirimanmu tu hami. Tung apala las do rohanami, jala dibege Tuhan do tangiang nami, asa lam tu memble-na ho dipasu-pasu Tuhan". (Ceritakanlah anakku, apakah kerja dan pangkatmu sekarang nak, karena kirimanmu  kepada ayah ibu sungguh besar. Kami sangat bahagia, Tuhan telah mendengar doa kami,bahwa kamu semakin memble dan diberkati Tuhan).
Si Bernard mula-mula terdiam, agak kaget, setengah tidak mengerti. Kok orangtua saya mendoakan saya agar semakin memble????

Setelah diingat-ingat, dia tidak dapat menahan senyumnya. Dan sambil tertawa kecil dia menceritakan tempat bekerjanya sekarang jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Dia tidak mengungkapkan mengenai hal PHK dan pesangon yang dia terima. Dan tidak lupa dia mengucapkan terimakasih atas doa orangtuanya. Dan dalam kesendiriannya, dia merenungkan semua kejadian
itu. Orangtuanya mendoakan dia agar semakin memble, pada saat dia memble betulan setelah di  PHK.

Sementara dia berdoa agar Tuhan menunjukkan kasihnya berupa tempat pekerjaan baru baginya. Dan dia mendapat tempat kerja dan posisi yang lebih bagus, dan dia tidak memble lagi. Setelah sekian lama merenung, dia mengerti bahwa Tuhan bekerja dengan caranya sendiri. Tuhan lebih mendengar doa yang keluar dengan bahasa iman, lebih dari bahasa mulut. Dan dia bangkit dari tempat duduknya, melipat tangan dan berdoa atas berkat Tuhan yang berkelimpahan, dan atas orangtua yang selalu berdoa untuknya.

Ye… aku dah lulus sidang….

Wednesday, August 9th, 2006

Yah, akhirnya sidang selesai n’ kami bertiga (aku, farel, sahat) dinyatain lulus…

Aku seneeeennnnnnnnggggggggg banget.

Praise the LORD.

DIA bener2 bantu kami waktu ngelewatin sidang itu.

Without HIM, nothing deh hasilnya…

Ini sidang terbaik yang pernah aku laluin..

Sampe2 kami bertiga jadi teletubbies waktu baru keluar dari ruang sidang.. huehehehehe.. Berpelukan…. ;p

Thx buat satu kelompokku yang bener2 memiliki kerja sama yang baik. Kalian memang babang2ku yang baik, kapannya kita makan2?? ;D

Makasih banget buat orang2 yang udah ngedoain aku. Bpk, ma2, abg n’ adek2ku.

Trus tuk orang yang mau nyediain waktunya untuk doa bareng denganku pkl 11 malem, walo jarak jauh ;p. Thx u banget…, terutama buat Mat. 18:19-nya (thx tuk semua pengertiannya n’ dukungannya :). Thx for everything that u give).

 

Oia, hampir lupa, tuk dosen pembingbingku + Itoku "Mr
Albert Sagala" ;p, thanx buat masukan2 + arahannya selama ini.
Terutama
masukannya sebelum kami sidang kemaren.. :)
Bener2 ampuh
pak.. huehehehe..
Tanpa saran2 dari
bapak, kami gak mungkin bisa ngelewatin ini semua.
Kami beruntung
punya dosen pembimbing spt bapak.
Sampe2 kami
kemaren bertekad gak akan ngecewain bapak lagi di sidang akhir ini.. ;)
BTW, maaf yah pak,
buat masalah2 yang kemaren.. ;p

Pokoknya semua orang yang mau peduli n’ ngedoain aku deh..
Aku tau, Tuhan bekerja karna kalian turut berdoa untuk aku.. Hiks.. jadi terharu.. :D

Tapi deliverables kami masih harus di perbaikin juga.
Trus masih ada revisi lagi with our Director Mr. Saswinadi SASMOJO.
Trus, disusul TOEFL tgl 14 nanti.
Mudah2an semua lancar. Amin..

Jawaban DOA

Tuesday, August 1st, 2006

Let’s take a look this child faith..
So wonderful..

Pada suatu hari seorang wanita sedang membimbing keponakannya belajar.
Tapi tidak seperti biasanya, kali ini keponakannya tidak bisa berkonsentrasi.
Ternyata salah satu kelerengnya hilang.

Tiba - tiba anak itu berkata, "Bi, bolehkah aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku ?"

Ketika bibinya mengizinkan, anak itu lalu berlutut di dekat kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh - sungguh.
Selesai berdoa dia bangkit berdiri dan melanjutkan pelajarannya.

Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab, dan dengan demikian akan melemahkan imannya, dengan khawatir bertanya, "Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu ?"

"Tidak, Bi" Jawab anak itu, "tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi."

Alangkah indahnya iman anak itu.
Allah memang tidak selalu menjawab doa kita menurut kehendak kita, tetapi jika kita tulus berdoa, Dia akan mengambil keinginan kita yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Maju terus dalam

Tuhan, Tuhan Yesus memberkati saudara dan seisi rumah, Amin.

Teriring salam dan doa.

Sumber: http://www.cerita-kristen.com/

Ia telah mengutus Aku untuk menyembuhkan yang hancur hatinya (Yesaya 61:1)

Tuesday, August 1st, 2006

Yesus memang Bapa yang paling bisa mengerti aku.
Hari ini, ketika semangatku mulai hilang dan emosiku memuncak, Tuhan mengingatkanku lewat renungan dari terangdunia.com yang aku baca malam ini. Ia tau pada saat kapan IA harus mengingatkanku. Ia tau pada saat kapan perlu memberiku petunjuk dan peringatan. Ia mengobati hatiku yang terluka dan IA pulihkan aku.
Gak bosan2 aku berterima kasih buat segala kasih dan perbuatan-MU Yesus.

There is none like YOU..

I Love YOU Jesus, from the bottom of my heart..

THANX LORD……

here it is……….

Em@il Dari TUHAN
                  
                  
                   
                   

Anak-Ku Yang Tercinta,

Pernahkah kamu melihat seekor anjing sesudah kematian tuannya?
  Kadang-kadang akan bersedih dan melolong selama berhari-hari. Semangat hidupnya
  hilang. Anjing itu patah semangat.

Seseorang yang patah semangat itu telah berharap dan telah
  dikhianati. Dapatkah orang menyambung hati yang patah?

Putra-Ku dapat melakukannya. Ia mengetahui semua harapan dan mimpimu. Ia tahu
  betapa kamu terluka, dan Ia mengetahui cara untuk memberimu harapan lagi, Jika
  kamu mau mempercayai Yesus untuk menyembuhkan lukamu, Ia akan masuk dan memberimu
  hati yang baru. Yang harus kamu lakukan hanyalah meminta.

Yang Memulihkan Hatimu,
  Tuhan 

Ia telah mengutus Aku untuk menyembuhkan yang hancur
  hatinya (Yesaya 61:1)

Humor :D

Tuesday, August 1st, 2006

Tidak Boleh Minta Bantuan

======================

"Iis, sebelum mengerjakan tes, jangan lupa berdoa dahulu," nasihat ibu pada suatu malam.

"Baik, Bu. Tetapi mengapa aku harus berdoa?" tanya Iis

"Ya untuk minta bantuan Tuhan agar kamu dapat mengerjakannya sehingga mendapat nilai yang bagus," jawab sang ibu sambil membelai lembut
rambut putri kesayangannya.

Ternyata hasil tes Iis jelek. "Iis, mengapa nilai tesmu jelek?" tanya ibunya.
"Apa engkau tidak berdoa?"

"Tidak, Bu, karena dilarang oleh Pak Guru."

"Masa sih, Pak Guru melarangmu seperti itu?"

"Ya, Bu. Kalau tes, kita tidak boleh minta bantuan siapa pun. Jadi, aku tidak berdoa dan minta bantuan kepada Tuhan," jawab Iis polos.

Lebih Baik Memberi Dari Pada Menerima

================================

Seorang kaya namun pelit agak gusar setelah mendengarkan khotbah dari pendeta yang  mengulas firman"Lebih baik memberi dari pada menerima".

Lalu dia mendekati pendeta setelah kebaktian selesai, dan katanya.

"Apakah khotbah pak pendeta tadi ditujukan pada saya?"

"Oh…tentu tidak pak, bukankah ayat tadi untuk semua orang?" jawab pendeta datar

"Asal bapak tahu saja…saya selalu menerapkan ayat tsb. pada setiap pekerjaan saya" sahutnya sedikit meninggi.

" Syukurlah…puji Tuhan, ngomong-ngomong pekerjaan bapak apa?" tanya pendeta.

" Saya petinju pak"jawabnya sambil berlalu

(Kiriman : Aloysius Hendratmo)

Menumpuk Bara Api
================

Seorang ibu tersedu-sedan mengadu kepada pendetanya, karena mendapat perlakuan tidak senonoh dari suaminya yang ringan tangan.
Percekcokan selalu mewarnai kehidupan keluarga itu.

Maka, pendeta pun bertanya, "Sudahkah Ibu menumpukkan bara api di atas kepalanya?" (Maksud pendeta adalah membalas kejahatan dengan
kebaikan/kasih seperti dalam Roma 12:20).

Tetapi, rupanya ibu itu salah paham.
Maka dengan antusias dan spontanitas sambil mengusap air mata ibu itu berkata, "Kalau bara api sih belum pernah, tapi kalau kopi panas, sering …."

Sumber: http://www.sahabatsurgawi.net